Bismillahirrahmanirrahim.
Di kedalaman laut yang tak pernah dijamah cahaya matahari, hidup makhluk-makhluk asing yang tak banyak dikenal. Salah satunya adalah anglerfish, si betina bercahaya. Mendominasi seluruh lanskap samudera gelap itu.
Ia memegang cahaya di kepalanya sebuah lentera alami yang tak hanya menuntun tapi juga menjerat. Ia berburu, menguasai ruang, dan menjadi pusat dari segala kehidupan di sekitarnya. Dan di sisi lain, ada jantan kecil yang hanya punya satu takdir. Melebur ke dalam tubuh sang betina, hingga tak bersisa selain fungsinya untuk reproduksi. Ia tak lagi makhluk utuh. Hanya parasit yang hidup demi betina yang menguasainya.
Sains menyebut ini sebagai adaptasi ekstrem. Tapi bagi kita ini adalah renungan, yang entah mengapa, mulai terasa familiar.
Hari ini, dalam upaya mengejar apa yang disebut sebagai "kesetaraan", banyak perempuan merasa cukup untuk berjalan sendiri. Tak sedikit yang berpikir bahwa peran laki-laki tak lagi dibutuhkan, bahwa segala bisa dicapai tanpa kehadiran mereka. Entah sebagai pasangan, penopang, atau penjaga.
Keyakinan ini sering kali lahir dari luka ekonomi, dari pengalaman tak adil, dari stigma sosial tentang “tulang rusuk yang tertukar” Sebuah ungkapan sinis yang mempermainkan peran fitrah laki-laki dan perempuan dalam sebuah hubungan. Ia mulanya hadir sebagai candaan sinis yang terus diulang hingga menjadi sebuah keyakinan. Bahwa perempuan bisa menggantikan laki-laki, bahkan sebaiknya tak bergantung kepada mereka sama sekali.
Namun adakah dunia yang hanya berdiri di satu kaki bisa benar-benar melangkah jauh?
***
Bayangkan jika seluruh struktur kehidupan manusia meniru anglerfish. Jika perempuan jadi pusat cahaya, dan laki-laki tak lebih dari pelengkap yang pada akhirnya menghilang. Apakah ini bentuk kemajuan? Atau hanya adaptasi menuju mimpi buruk karena rasa curiga yang tak pernah disembuhkan?
Perempuan memang memiliki kekuatan besar, itu tak terbantahkan. Namun kekuatan yang bijak adalah yang tahu batasnya. Bukan karena perempuan lemah, tapi karena dalam hidup ini, saling bergantung bukan kelemahan. Melainkan adalah kebijaksanaan.
Anglerfish hidup dalam gelap. Betinanya bersinar, tapi hanya untuk dirinya sendiri. Tak ada peradaban di sana. Tak ada generasi yang tumbuh dalam relasi yang utuh. Hanya ada sistem satu arah, dan makhluk-makhluk yang kehilangan identitasnya demi kelangsungan satu pihak.
Apakah ini yang kita inginkan untuk dunia manusia?
Kita dicipta berpasangan, bukan untuk berlomba. Karena tulang rusuk tidak bisa bertukar. Ia bukan soal siapa lebih tinggi atau lebih rendah, tapi tentang posisi yang saling menjaga. Saat perempuan memutuskan untuk menjadi segalanya, bukan karena cinta, tapi karena luka dan dendam atas masa lalu, maka struktur rumah akan retak. Karena dinding tidak bisa menopang tanpa tiang.
Perempuan yang tidak butuh laki-laki, dan laki-laki yang tidak tahu lagi dibutuhkan, adalah dunia yang perlahan kehilangan bentuk. Seperti di kedalaman laut, tempat semua menjadi gelap, dan hanya satu yang bersinar sendiri, sambil perlahan memangsa yang lain.
***
Jika kita ingin membangun dunia yang utuh, maka cahaya itu harus dibagi. Bukan berarti semua harus sama. Tapi semua harus saling mengisi. Perempuan boleh kuat. Bahkan sangat kuat. Tapi kekuatan yang sejati adalah yang tetap memberi ruang bagi yang lain untuk berdiri di sampingnya, bukan di bawahnya.
Dan laki-laki? Mereka tidak diciptakan untuk ditaklukkan. Tapi untuk berjalan bersama, melengkapi, dan memberi makna pada cahaya yang dibawa perempuan. Seperti siang dan malam, seperti langit dan bumi. Peran bukan soal posisi, tapi harmoni.
Karena jika cahaya hanya satu dan tak memberi ruang bagi yang lain, maka dunia akan kembali gelap. Seperti laut dalam. Seperti peradaban anglerfish.
0 Komentar