‎Bismillahirrahmanirrahim.
‎Bayangan itu tertangkap di atas jalanan berdebu. Tiga sosok di atas motor, pemandangan yang tak lagi biasa di negeri yang redup ini, mungkin karena masyarakatnya semakin sejahtera ya?. Motor berlisensi dunia akhirat itu bergerak perlahan menuju ke antah berantah. Satu mengemudi, dua di belakangnya. Brangkali terlihat seolah seorang ayah, ibu, dan anak. Padahal bukan. Tanpa ada wajah, hanya siluet yang terbentuk oleh cahaya sore dan kehadiran yang saling menyandarkan. Tapi dari ketiga sosok yang samar itu, terasa hangat. Ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan, tetapi dapat dirasakan. Rasa saling menjaga, kebersamaan, dan keutuhan, walau hanya dalam bayangan.
‎Bayangan itu sederhana, tetapi penuh makna. Karena tidak semua orang memilikinya.
‎Tidak semua anak tumbuh dengan memori tentang ayah yang membonceng, ibu yang melingkupi, dan perjalanan kecil yang terasa seperti dunia itu sempit, cukup, dan penuh tawa.
‎Di negeri ini, di banyak tempat yang bahkan tidak terlalu jauh dari gambar itu diambil, banyak anak tumbuh tanpa ayah, tanpa ibu, tanpa bayangan seperti itu.
‎Sebagian besar tak tahu siapa yang seharusnya memeluk dari belakang, atau siapa yang dulu pernah mereka panggil "Ayah". Sebagian besar bahkan tidak sempat merekam memori tentang kebersamaan. Mereka hanya tumbuh. Sendiri. Dengan luka yang tak bisa ditunjukkan dan keinginan untuk dikenang oleh seseorang yang bahkan tak pernah hadir.
‎Foto ini mengingatkan kita pada sesuatu yang sering luput dari percakapan tentang pendidikan, tentang peran keluarga, dan tentang negara. Yaitu "privilege untuk memiliki kenangan".
‎Karena kenangan yang sehat, yang penuh cinta, yang sederhana seperti duduk di motor bersama keluarga bukanlah milik semua orang. Bahkan untuk sekadar mengingat, seseorang harus terlebih dahulu memiliki. Dan nyatanya, banyak yang tidak memiliki apa-apa untuk diingat.
‎Lalu kita bertanya. Kenapa generasi muda hari ini begitu mudah marah?
‎Begitu mudah putus asa, kehilangan arah, atau merasa hidup ini kosong?
‎Mungkin karena mereka kehilangan akar. Akar yang semestinya tumbuh dari rumah. Dari keluarga.
‎Dan ketika akar itu tak pernah tumbuh, bagaimana bisa mereka berdiri, apalagi berbuah?
‎Kita terlalu sering berbicara tentang keluarga dalam konsep normatif. Ayah yang bertanggung jawab, ibu yang lembut, anak yang patuh, rumah yang harmonis.
‎Tapi kita lupa bahwa banyak yang hidup tanpa itu semua. Banyak yang bayangannya pun tidak pernah terbentuk.
‎Dan karena itu, mereka hidup tanpa arah pulang.
‎Bayangan di foto ini menjadi pengingat. Bahwa bagi sebagian dari kita, masa kecil adalah tentang perjalanan kecil bersama orang tua. Tentang dibonceng saat berangkat sekolah, tentang menunggu dijemput saat hujan turun, tentang suara ibu yang berkata, “Pegangan, ya.” Tapi bagi yang lain, masa kecil adalah tentang menunggu yang tak pernah datang. Tentang memandang motor lain dengan diam. Tentang berjalan kaki sambil bertanya-tanya, apakah ada seseorang yang sedang mencarinya.
‎Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun.
‎Ini adalah ajakan untuk mengingat, bahwa kehangatan keluarga bukanlah jaminan, melainkan anugerah.
‎Dan bagi mereka yang memilikinya, jadikan bayangan itu tetap hidup. Dijaga, disyukuri, dan diwariskan.
‎Karena dalam dunia yang gelap dan keras seperti hari ini, satu bayangan keluarga yang hangat bisa menjadi cahaya yang menyelamatkan.
‎Dan bagi mereka yang belum punya bayangan untuk dikenang, semoga kita bisa menjadi sosok yang membentuknya. Dalam bentuk kehadiran, dalam bentuk pelukan, dalam bentuk arah pulang yang baru.