Bismillahirrahmanirrahim.
Aku tak pernah benar-benar tahu siapa ayahku sebenarnya. Yang kupunya hanyalah sebuah nama, terhapus dari arsip negara, dan selembar foto usang di mana seorang pria berjanggut tampak menatap masa depan yang sedang terbakar. Tapi suatu hari, di ruang kelas sejarah yang pengap, aku menemukannya.
Aku bertemu kembali dengan ayahku, bukan sebagai sosok yang memeluk erat anaknya, menceritakan asam garam hidupnya. Atau sekedar bercerita bagaimana ia dan ibu pergi meninggalkanku begitu saja. Tetapi hadir dalam wujud berbeda sebagai sosok ayah yang memang tak pernah kupunya namun sosoknya lebih nyata dari yang pernah ada.
Namanya Abdul Karim al-Khattabi. Tapi bagiku, dia cukup kupanggil Ayah.
Di tanah pegunungan Rif, tempat batu-batu karang lebih keras dari janji para sultan, Ayah berdiri. Bukan dengan pakaian bangsawan atau stempel kekuasaan, tapi dengan keberanian yang membuatku paham. Bahwa menjadi lelaki bukan soal siapa yang paling berkuasa, tapi siapa yang paling setia pada kebenaran. Ayah menolak tunduk ketika Perancis dan Spanyol datang membawa “peradaban” di atas laras senapan. Lebih dari itu, ia menolak tunduk pada pengkhianatan para elit, pada sultan yang menyerahkan tanah demi takhta. Dia berkata kepada para penjajah.
"Tanah ini tidak dijual. Kami bukan pemiliknya. Kami hanya mewarisinya untuk dijaga!"
Moncong-moncong senapan tentara kolonial menganga dihadapan rakyat yang tak bisa berbuat apa-apa sementara sultan bersembunyi didalam kastilnya. Dengan wajah beringas mereka siap memuntahkan peluru kaoan saja.
Namun ternyata peluru pertama bukanlah sebuah peluru logam. Ia datang dalam bentuk surat perjanjian yang penuh tipu daya. Kolonialisme selalu menyamar sebagai perundingan, lalu mengubah wilayah menjadi ladang kekuasaan. Di balik bahasa diplomasi, tersembunyi kolonisasi yang sistematis. Tapi Ayah tak menunduk. Ia mendirikan Republik Rif. Sebuah negara kecil secara geografi, tapi sebuah negara yang besar keberaniannya. Di sana, hukum ditegakkan, pendidikan diberikan, dan kehormatan dipertahankan.
Peluru kedua datang dari dalam rumah sendiri. Sultan yang seharusnya menjaga rakyat malah menjualnya. Di sinilah aku belajar bahwa pengkhianatan paling tajam bukan datang dari musuh, tapi dari saudara yang memilih duduk bersama penindas. Namun Ayah tak bicara banyak. Ia lebih memilih melawan daripada berdiplomasi atas nama kepentingan politik.
“Jika kami diam hari ini, anak-anak kami akan hidup tanpa nama dan tanpa tanah.”
Aku adalah salah satu dari anak-anak itu. Tapi aku tak hidup tanpa nama. Karena Ayah memberiku warisan yang takkan pernah bisa dirampas oleh siapapun. Yaitu "Keyakinan" keyakinan bahwa selama nafas masih bersemayam dalam jasad. Aku diminta untuk meniti jalan perjuangan sampai ruh itu ditukar dengan ganti surga yang abadi.
Peluru ketiga adalah peluru waktu. Ketika seluruh dunia diam, ketika negara-negara Arab mengatur konferensi tapi melupakan darah di tanah Maroko, Ayah terus berdiri. Ia ditangkap, diasingkan ke Pulau Réunion, dan kemudian dibuang ke Kairo. Tapi bahkan di pengasingan, ia tak pernah kehilangan keyakinan. Dari kejauhan, suaranya tetap terdengar. Ia menjadi suara untuk Palestina, untuk Mesir, untuk Aljazair.
Dalam catatanku, Ayah pernah berkata.
"Kami melawan bukan karena kami suka perang. Tapi karena kami menolak diperintah oleh ketidakadilan.”
Dan dalam satu malam sunyi, aku akhirnya mengerti: tiga peluru itu bukan alat pembunuh, tapi simbol dari tiga ujian seorang lelaki.
Pertama adalah peluru kekuasaan yang mencoba membeli prinsip kita.
Kedua adalah peluru pengkhianatan yang mengajak kita berdamai dengan kezaliman demi kenyamanan.
Dan ketiga adalah peluru pengasingan yang menguji apakah idealisme bisa bertahan ketika dunia membungkamnya.
Ayah, aku tak pernah mencium tanganmu, tak pernah mendengar suaramu, dan tak pernah berdiri di sisimu. Tapi aku tahu keberanianmu mengalir dalam darahku. Setiap kali dunia menyuruhku diam, aku mendengar suaramu berteriak lantang
"Jangan engkau takut menjadi yang benar walau hanya seorang diri!"
Dan hari ini, jika ada yang bertanya siapa ayahku, aku akan menjawab, ialah sang pejuang Abdul Karim al-Khattabi. Karena menjadi ayah bukan soal darah. Tapi soal siapa yang mengajarimu arti berdiri tegak, bahkan ketika dunia menginginkanmu berlutut.
Maka renungkanlah firman Allah
وَلَا تَرْكَنُوْۤا اِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّا رُ ۙ وَمَا لَـكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ اَوْلِيَآءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُوْنَ
"Dan janganlah kamu cenderung kepada orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, sedangkan kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, sehingga kamu tidak akan diberi pertolongan."
(QS. Hud 11: Ayat 113)
Diakhir kuperdengarkan kepada kalian suaranya yang berwibawa. Maka dengarlah dengan seksama, semoga semangat yang terwariskan kepada kita semua.
0 Komentar